tagline fgbmfi

Memimpin Dengan Doa

pangdam darpitoNama saya adalah Mayor Jendral  Purnawirawan TNI Darpito Pudyastungkoro. Sebagai seorang  mantan Panglima tentara, saya memimpin Kodam Jaya Jayakarta tidak dengan senjata, amunisi atau bayonet. Tapi saya memimpin wilayah Jabotabek ini dengan tiga huruf, yaitu D-O-A. Saya katakan doa, adalah karena saya imani benar dan saya percaya sungguh sungguh bahwa yang mengangkat dan menempatkan saya sebagai Pangdam Jaya Ke-24, Jayakarta ini adalah Tuhan Yesus sendiri.

Karena Tuhan Yesus sendiri yang menempatkan saya disini, dapat dipastikan ada yang Dia kehendaki untuk saya lakukan. Kehendak itulah yang selalu saya cari dan gali, karena tanpa suatu hubungan yang akrab dan karib dengan Tuhan mustahil kehendak itu dapat terlaksana. Selain itu saya selalu dituntut untuk senantiasa membaca fiman Tuhan, karena melalui ketekunan dan keintiman itulah akhirnya saya akan mampu menemukan jawabannya. Di dalam suatu doa, saya bertanya ,“Tuhan, kalau Engkau sudah menempatkan saya di Kodam Jaya ini, lalu apa sesungguhnya yang Engaku inginkan dari saya?” Tanpa menunggu lama, jawaban itu langsung saya dapatkan yaitu, “Buatlah orang orang yang berada di sekelilingmu untuk semakin percaya kepadaKu.” Ini saya anggap sebagai perintah dan hal inilah yang menyebabkan saya benar benar mau melaksanakan serta mengimplementasikan perintahNya dan saya percaya kalau Tuhan sudah berkehendak, pasti 1000% saya akan di pick up.

Bagi saya, hidup itu adalah bersaksi dan melayani. Tidak pernah sekalipun saya meninggalkan pelayanan di sela-sela kesibukan saya setiap hari sebagai Panglima. Saya selalu melayani setiap Sabtu, Minggu dan mungkin hari hari biasa pada sore atau malam harinya. Saya sungguh bersukacita jika diundang dari berbagai tempat untuk sekedar sharing atau bersaksi yang berkaitan dengan Firman Tuhan karena saya tahu saya tidak akan bisa berbicara atau melayani seperti sekarang ini kalau Roh Kudus tidak bekerja atas diri saya. Segala sesuatu itu adalah campur tangan Tuhan senantiasa. Itu yang saya pedomani benar benar.

Akhirnya muncul satu pertanyaan dalam hati saya, kalau Tuhan memerintahkan saya untuk membuta orang orang disekeliling saya semakin percaya kepada Tuhan, maka masih ada satu pertanyaan yang perlu saya ajukan kepadaNya, “Tuhan, saya ini kan bukan pendeta, saya ini kan bukan evangelis atau pengabar injil, bahkan menjadi majelis di gereja pun tidak. Tapi kenapa kok saya dapat pesan atau perintah seperti ini?”

Seperti biasa, Tuhan langsung menjawab; “Itu mudah saja, kamu cukup berdoa dan Aku sendiri yang akan bekerja.” Hal itu membuat banyak kesaksian kesaksian yang saya sampaikan adalah berkaitan dengan doa, mulai mendoakan orang yang datang ke kantor saya. Karena semua orang tahu bahwa di kantor Kodam ini kami biasanya hanya menerima tamu tamu militer saja, tapi semenjak saya menjabat sebagai Pangdam, tamu tamu yang menemui saya juga berasal dari kalangan sipil. Beberapa dari mereka datang dengan pergumulan. Ada banyak kesaksian kesaksian luar biasa yang saya alami melalui orang orang tersebut. Mulai dari seorang istri yang ditinggal selingkuh suaminya lalu datang kepada saya hingga pergumulan orang orang yang mengalami kesulitan ekonomi. Lalu saya simpulkan bahwa melalui kekuatan doa ini pula saya akan gunakan untuk memimpin dan mengamankan stabilitas kota Jakarta dan sekitarnya.

Ada kesaksian pribadi yang akan saya bagikan kepada pembaca yaitu ketika ayah saya yang berusia 96 tahun mengalami sakit. Sakitnya kali ini sepertinya sudah sangat gawat atau kritis, karena begitu saya antar beliau ke rumah sakit keputusan dari tim medis atau pun tindakan medis yang dilakukan adalah bahwa bapak harus masuk ICU. Nah karena kondisinya memang sangat drop sekali, saya tidak tahu jenis penyakitnya apa tetapi yang sering saya dengar bahwa dalam usia seperti itu biasanya orang tua rawan akan dehidrasi, akan ada penurunan keinginan atau nfsu makan dan minum sehingga tubuh lama kelamaan akan kekurangan cairan dan mengakibatkan dehidrasi. Faktor dehidrasi ini akan mempengaruhi seluruh kerja tubuh yang lainnya sehingga banyak sekali organ organ tubuh yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Singkat cerita bapak kemudian di evakuasi ke rumah sakit Gatot Subroto dan langsung dibawa ke ruang ICU untuk dilakukan tindakan medis selanjutnya. Setiap tindakan yang dilakukan oleh para tenaga medis ini selalu saya perhatikan, mereka bekerja sangat sigap dan saya rasa sebagai orang yang awam dalam bidang kesehatan, ini sudah luar biasa, artinya dalam kondisi kritis semacam itu selang selang ini lalu masuk ke mulutnya, seluruh tubuh sudah dipasangi instrument macam macam bahkan ada instrument yang ditanam dibalik kulitnya dan sebagainya.

Ketika saya datang menjenguk bapak di ruang ICU, disana suasananya cukup menegangkan. Saya tidak mengerti apa yang terjadi, saya lihat disitu sudah banyak berdiri para dokter, perawat perawat dan kemudian yang lebih menegangkan lagi adalah ketika saya lihat bapak dengan nafasnya yang sudah tersengal sengal. Nafasnya sudah satu.. dua.. satu.. dua… Dalam benak saya terpikir apakah sudah waktunya bapak dipanggil oleh Tuhan, tetapi pada kesempatan itulah yang membuat saya memberanikan diri dan mengambil inisiatif berdoa. Dengan disaksikan oleh para dokter dan tim medis lainnya saya berdoa dengan cara mendekatkan mulut saya ke telinga bapak, sehingga kepala saya dan kepala bapak saling merapat.

Baru saja saya akan mulai berdoa, ternyata ada satu kepala lagi yang masuk bergabung diantara kami dan saya kaget ternyata itu kepala ibu saya yang usianya sudah 88 tahun pada waktu itu. Lalu saya dan ibu bersama sama berangkulan untuk kemudian kami merangkul bapak yang sedang berbaring ditempat tidur.

Saya berdoa dengan suara yang cukup keras, inti doa saya adalah menyerahkan segala sesuatunya kepada kuasa Tuhan, karena Tuhanlah yang mempunyai kehidupan, karena kami yakin Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kami Manusia ciptaanNya. Dalam doa tidak lupa kami juga berdoa agar Tuhan memberkati para dokter dan perawat yang merawat bapak, saya berdoa juga agar Tuhan memberikan mereka akal budi, kebijaksanaan dan kemampuan untuk menangani proses medis dari orang tua saya ini serta obat obatan dan alat alat yang akan digunakan.

Singkat cerita, begitu kata amin saya ucapkan lalu membuka mata, yang terlihat pertama kali adalah seorang dokter wanita yang mengenakan kerudung. Dokter itu memberikan acungan jempol, bahkan dua jempolnya diacungkna kehadapan saya. Awalnya saya berpikir bahwa dia memuji doa kami karena dia selaku tim dokter juga ikut didoakan. Tapi setelah beberapa orang sudah mulai meninggalkan ruangan dokter itu mendekati saya, “Bapak tahu mengapa tadi saya mengacungkan jempol ketika tadi bapak selesai berdoa?” Ini adalah pengakuan dari seorang dokter yang berjilbab, “Ketika bapak berdoa, saya melihat ada tiga kepala yang tertumpu disitu kemudian sambil saya mendengarkan dan menyimak benar benar doa yang bapak ucapkan tadi, mata saya tidak lepas dari seluruh instrumen yang ada disitu dan apa yang terjadi pak, ternyata angka angka dari seluruh panel instrumen itu perlahan berubah. Angka angkanya berubah dari angka angka yang menggambarkan kondisi kritis menjadi status normal biasa!”

Luar biasa…! Luar biasa…! Jadi saya percaya dan imani benar bahwa doa kita ternyata memang dijawab secara spontan, tidak ada penundaan sama sekali dan itulah kekuatan doa! Seperti Firman Tuhan mengatakan, “Doa orang benar besar kuasanya.” Mulai dari peristiwa itulah saya semakin takjub akan kebesaran dan kemurahan Tuhan yang luar biasa. Dan setelah kejadian itu dua hari kemucian semua instrument yang masuk ke mulut bapak akhirnya dilepaskan, selang selang yang dulu mengaliri tubuhnya kini sudah ditanggalkan dan bapak sudah tidak menggunakan lagi nafas buatan. Jadi yang melekat disitu hanyalah alat monitor jantung, infus, oxygen, dan kateter selebihnya tidak ada lagi alat alat yang menempel seperti ketika bapak mulai masuk ICU. Puji Tuhan setelah menjalani 7 hari perawatan di ruang ICU, bapak sudah boleh masuk ruang perawatan biasa, total sepenuhnya dirawat dirumah sakit adalah 2 bulan dan saat ini bapak sudah kembali ke rumah dan menjalani perawatan rumah (home care)

Sungguh suatu berkat yang luar biasa, karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Setiap peristiwa, menuntun kita pada peristiwa berikutnya. Setiap kejadian, membawa kita pada kejadian berikutnya. Setiap kisah, menyiapkan kisah pada kisah selanjutnya. Kita ada didunia ini bukan suatu kebetulan, kita ada karena satu tujuan. Itulah sebabnya kita ada sebagaimana keberadaan kita saat ini.



Mayjen TNI Purnawirawan Darpito Pudyastungkoro, S.IP., MM. adalah mantam Pangdam Jaya, Jayakarta. Beliau merupakan anggota FGBMFI Jakarta Tomang Chapter, Jakarta. Menikah dengan Odilia Tinuk Denny Dyah Warsanti, dikaruniai dua orang anak yaitu Bayu Pratomo Herjuno Satito dan Sasanti Dwi Kritiani.

Posted in Profil

lt ad-1004 powerpoint templates title slide rev

  •  BRA-Q       Crapoe-Seafood-Restaurant copy
  • chemindo   Logo Puri Saron Hotels 
  • prego

Copyright © 2013 Communication & Publication Department FGBMFI Indonesia

Website Security Test