tagline fgbmfi

Memimpin karyawan Generasi Milenial dengan efektif

milenial“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

Dibutuhkan hikmat ekstra untuk memimpin angkatan zaman sekarang. Sekarang adalah suatu era angkatan kerja yang sangat berbeda coraknya dibandingkan 10–15 tahun yang lalu, ketika Anda awal memimpin atau bekerja. Generasi angkatan kerja dari waktu ke waktu dapat diklasifikasikan berdasarkan tahun kelahirannya sebagai berikut:

• Generasi “baby boomer”: kelahiran tahun 1946-1964, 

• Generasi X: kelahiran tahun 1965-1980, 

• Generasi Y: kelahiran tahun 1981-1994, 

• Generasi Z: kelahiran tahun 1995-2010, 

• Generasi Alpha: kelahiran tahun 2011-2025.

Yang sering kali disebut-sebut generasi milenial adalah generasi Y dan Z. Setiap generasi memiliki keunikan tersendiri, yang menimbulkan perbedaan baik dalam hal lingkungan hidup, cara berpikir, maupun kebiasan sehari-hari. Keunikan generasi milenial terutama terletak pada cara berpikir atau cara pandangnya. Teknologi memiliki dampak yang luar biasa besar pada cara generasi milenial menyikapi kepemimpinan dan melakukan pekerjaan.

Perbedaan cara pandang generasi milenial sering kali memicu konflik dengan pemimpin yang berasal dari generasi baby boomer dan generasi X. Konflik-konflik tersebut memunculkan keluhan mengenai apa yang mereka sebut karakter “anak muda zaman sekarang”. Karakter yang dimaksud antara lain sulit diajak berkomunikasi, egois, malas, banyak menuntut, tidak sopan, serta hasil kerja yang tidak memuaskan. Memang, dengan karakter mereka yang unik, generasi milenial akan meninggalkan perusahaan untuk beralih ke perusahaan atau bahkan pekerjaan lain jika merasa pemimpin atau perusahaan yang sekarang tidak memenuhi ekspektasi mereka. Mereka cenderung mencari perusahaan atau pekerjaan yang membuat mereka merasa nyaman. Alhasil, tingkat keluar masuk karyawan generasi milenial adalah yang tertinggi di banyak perusahaan, jika dibandingkan dengan karyawan dari generasi lainnya.

Sebenarnya, banyak pemimpin tidak menyadari bahwa gelombang kedatangan generasi milenial tidak bisa dihindari dan sudah pasti terjadi dalam setiap perusahaan. Akibatnya, banyak pemimpin perusahaan kurang cepat/sigap menanggapi gap (jarak perbedaan) antar generasi. Padahal, gap antar generasi ini merupakan isu penting yang harus dipahami setiap pemimpin. Mengabaikan gap antar generasi berisiko menimbulkan kerugian investasi waktu dan sumber daya, termasuk pelatihan kepada karyawan generasi milenial sejak mereka belum berpengalaman, rekrutmen karyawan baru jika mereka keluar dari perusahaan, pelatihan ulang untuk karyawan baru, dll. Lalu, bagaimana mencegah kerugian semacam ini? Satu-satunya cara adalah pemimpin belajar memimpin generasi milenial dengan efektif.

Generasi milenial tumbuh dalam lingkungan yang berubah dengan cepat dan teknologi yang mengambil alih banyak hal. Dengan demikian, mereka terbiasa mengharapkan perubahan yang cepat. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan diri, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, mereka tidak akan tinggal diam, melainkan segera mencari tempat yang lebih menjawab kebutuhan. Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa generasi milenial umumnya memiliki ekspektasi terhadap perusahaan tempat mereka bekerja antara lain: lingkungan kerja yang menyenangkan, akses teknologi yang cepat, hubungan kerja yang tidak birokratis, kebebasan melakukan tugas sesuai gaya mereka masing-masing, penghargaan akan keberagaman, pemimpin yang dapat bersikap sebagai teman, sistem reward and punishment yang jelas berdasarkan kinerja, serta suasana kerja yang mudah untuk saling memberikan umpan balik.

Dalam menyikapi kebutuhan karyawan generasi milenial, pemimpin di perusahaan disarankan untuk melakukan beberapa adaptasi yang menolong mereka menjadi lebih bertanggung jawab dalam pekerjaannya, yaitu:

1. Pahami cara generasi milenial berkomunikasi.

Konon, istilah generasi Y (huruf ini berbunyi “whay”, seperti kata “why” dalam bahasa Inggris) diberikan pada generasi ini muncul sebab mereka senang menggunakan kata tanya WHY (mengapa) dalam berkomunikasi. Bagi mereka penting sekali memahami alasan dibalik setiap hal atau tugas yang diberikan padanya. Oleh karena itu, Pemimpin harus dapat menyampaikan segala informasi tentang perusahan secara jelas, transparan dan lugas sejak awal proses rekrutmen. Jelaskan mengenai kualifikasi apa yang dituntut perusahaan, serta hal-hal apa yang dapat diberikan perusahaan kepada mereka.

2. Selami karakteristik generasi milenial. 

Generasi milenial juga senang bila diberi kesempatan berbicara dan bertanya. Bagi mereka, hierarki adalah hal yang membosankan dan seharusnya semua orang dalam perusahaan merupakan bagian dari tim. Mereka senang berbicara dengan atasan seperti mereka berbicara dengan rekan kerja. Hal inilah yang sering kali dilabeli “kurang sopan” oleh generasi X atau sebelumnya. Sebagai pemimpin mereka, salami karakteristik unik ini dan libatkan mereka.

3. Jadilah mentor, bukan atasan.

Banyak perilaku generasi milenial berakar dari pola asuh orang tua yang selalu mendampingi setiap aktivitas mereka: mulai dari bangun tidur, menyiapkan keperluan sekolah, kegiatan ekstra kurikuler, hingga rencana liburan. Generasi milenial terbiasa berkegiatan mandiri dengan hanya berpatokan pada jadwal yang diatur orang tuanya. Dalam dunia kerja, generasi milenial membutuhkan pemimpin yang lebih bersikap sebagai mentor daripada atasan. Dengan demikian, mereka dapat terus “terpelihara” dalam kebutuhan akan pembelajaran dan pengembangan diri.

4. Berikan dan tanyakan umpan balik dengan cepat.

Generasi milenial umumnya tertarik untuk terus meningkatkan dan mengembangkan diri. Mereka menginginkan otonomi dalam pembentukan kariernya. Ini artinya, pemimpin harus menyediakan sarana yang tepat berupa umpan balik untuk pengembangan diri secara pribadi dan profesional. Generasi milenial mengharapkan umpan balik yang cepat, lugas, dan konsisten. Maka, sebagai pemimpin sebaiknya Anda tidak ragu atau sungkan mengatakan bagaimana penilaian Anda terhadap kinerja mereka dalam melakukan suatu tugas dan tanggung jawab. Jangan menunggu hari kerja berakhir, sebab peran teknologi dalam kehidupan generasi milenial membuat mereka mengharapkan umpan balik diberikan secara cepat. Demikian pula sebaliknya, tanyakan masukan dan umpan balik mereka, karena generasi milenial hampir selalu memiliki pendapat dan penilaian spontan terhadap segala sesuatu.

5. Kendalikan target output, tetapi bebaskan prosesnya.

Berikan karyawan generasi milenial lebih banyak kebebasan dan kepercayaan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cara mereka sendiri. Generasi yang tidak suka didikte ini akan merasa lebih nyaman bekerja jika diberi tanggung jawab dengan penuh keleluasaan. Peran pemimpin bukanlah mendikte, tetapi mengawasi dan mendukung penuh proses penyelesaian tugas agar hasilnya bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan.

6. Dukung generasi milenial dengan teknologi modern yang memadai.

Generasi milenial memiliki batas yang tipis antara kerja dan kehidupan sosial, dan sering memadukan keduanya untuk mendorong kualitas kinerja maupun kehidupan pribadi mereka. Pemimpin sebaiknya memberi kesempatan seluas mungkin bagi generasi milenial untuk mengakses teknologi informasi dan menggunakannya untuk bekerja. Tatap muka sering kali bukanlah hal penting bagi mereka sebab komunikasi via teknologi selalu tersedia.

7. Terapkan kerja bersama dalam tim.

Generasi milenial membawa perubahan dalam cara penyelesaian sebuah pekerjaan. Mereka lebih senang bekerja dalam kelompok dibandingkan secara individual. Pemimpin dapat memfasilitasi hal ini dengan memberikan pembagian pekerjaan per tim. Dengan demikian, mereka memiliki kebebasan melakukan penetapan bagian masing-masing anggota tim sesuai kapasitas individual demi mencapai tujuan bersama dalam tim. 

Zaman sudah mengalami perubahan yang begitu cepat, maka cara-cara seorang pemimpin dalam memimpin juga perlu disesuaikan. Jadilah pemimpin yang penuh hikmat dalam mengikuti perubahan generasi angkatan kerja.

Selamat mempraktikkan dan menuai kesuksesan dalam efektif memimpin karyawan generasi milenial.

Sumber : abblove.org

Posted in Marketplace

lt ad-1004 powerpoint templates title slide rev

  •  BRA-Q       Crapoe-Seafood-Restaurant copy
  • chemindo   Logo Puri Saron Hotels 
  • prego

Copyright © 2013 Communication & Publication Department FGBMFI Indonesia

Website Security Test